Cerpen Otodidak
(Ini adalah cerpen pertama saya yang saya ciptakan secara otodidak, judul dari cerpen ini pun sebenarnya bukan saya yang memilih melainkan tidak sengaja,tugas dari sebuah forum sastra di kampus yang saya ikuti. Selamat membaca☺️)
(Ini adalah cerpen pertama saya yang saya ciptakan secara otodidak, judul dari cerpen ini pun sebenarnya bukan saya yang memilih melainkan tidak sengaja,tugas dari sebuah forum sastra di kampus yang saya ikuti. Selamat membaca☺️)
Mobil
Entah apa yang mengganjal
dipikiranku, alunan loceng gereja dan guyuran derai hujan kala itu membuatku
lesu. “Tik tok tik tok tik tok” langkahku menuntunku pada sebuah bayangan
samar-samar diujung jalan. Langkahku
terhenti ketika kulihat kembali mobil tua pemberian ayahku dulu, “Oh bukankah
sudah ku lowakkan mobil tua dan kenangannya? Kenapa ada disini lagi?” gumamku
tak karuan.
Bau mistis kian melekat pada setiap
sudut mobil tua ayahku ini, tak kuat hati untuk ku amati kenangan-kenangan pada
sudut-sudutnya. Mobil pertama milik ayahku pada zaman belanda ini telah banyak
meninggalkan kenangan pahit.
Lima belas tahun lalu terakhir aku
melihat rona bahagia dilengkung bibir keluargaku saat semua masih utuh, tak
kuingat jelas karena aku baru berusia tujuh tahun kala itu. Mobil tua ini
selalu membawa kami menyusuri seisi kota. Tak kuat hati rasanya mengenang
cerita usang pahit di masa lalu. Insiden mengerikan yang memaksaku berpisah
dengan ayah dan ibuku telah menjadi segores luka yang melekat kuat di batinku.
Matahari
kembali menampakkan sinarnya di ufuk timur, jam menunjukkan pukul 05.00 WIB
saatnya aku pergi ke kantor jurnalistik tempatku bekerja. Sebagai seorang
karyawan jurnalistik yang masih magang hendaknya aku berangkat pagi-pagi buta
untuk mencari ribuan informasi seputar keganasan dunia. Ketika aku keluar rumah
dan hendak ke kantor mobil itu masih terparkir di tepi jalan depan rumahku, aku
tak perduli dengan adanya mobil tua itu. Hari itu aku ditugaskan mendatangi
sebuah pabrik kayu yang diduga sebagai tempat penyelundupan kayu-kayu ilegal
dari Pulau Jawa, bersama polisi aku mengamati sudut demi sudut ruangan dan
sembari mencatat informasi penting mengenai pabrik tersebut.
“Mas
sepertinya ini merupakan kayu yang diselundupkan dua minggu yang lalu” ungkap
salah satu polisi bernama Kompol Hendra Apriadi.
“Iya pak, kira-kira macam kayu apakah ini dan
apa motif pelaku menyelundupkan kayu-kayu ini?” tanyaku kepada polisi tersebut.
“Kayu
ini jenis kayu jati tua yang kira-kira usianya ada sekitar ratusan tahun, motif
si pelaku tak lain adalah untuk menjualnya keluar negeri melalui jalur laut.
Barang ini diselundupkan disini dan diangkut menggunakan truk besar tertutup
rapat oleh kain untuk mengelabuhi petugas pengecekan dipelabuahan.” Ungkap pak
Hendra.
Setiap
informasi yang di sampaikan pak Hendra aku catat dan akan aku jadikan sebagai
berita update di siaran televisi kantorku. Sekitar kurang lebih 3 jam aku
selesai mengikuti investigasi di pabrik kayu selundupan bersama polisi segera
aku bergegas ke kantor dan mengedit informasi yang ku dapat. Laptopku tiba-tiba
mati dan aku segera mencari charger untuk mengisikan batrainya. Sembari
menunggu laptop aku menuju dapur kantor untuk mengambil minuman, di kantorku
memang semua karyawan di ijinkan membuat minuman sendiri. Handphone ku
berdering segera aku cek siapa yang menghubungiku, saat aku mendapatkan
handphone ku dering itu sudah berhenti
dan aku lihat nomor baru dilayar, segera aku menelphone balik ke nomor
tersebut. “Tuuuttttt tuuuttt” terputus. Aku coba sampai enam kali dan selalu
terputus, lalu untuk ketuju kalianya aku mendengar suara lelaki, suara yang
pernah aku dengar beberapa tahun lalu. “Paman Sam?” tanyaku. “Bagas... ini
nomormu nak?” tanyanya.
“Paman
Sam bagaimana keadaan paman selama beberapa tahun belakangan ini?, lebih dari
sepuluh tahun aku tak mendengar kabar darimu.”tanyaku pada paman Sam.
“Aku
baik-baik saja ndo (ndo atau londo adalah panggilan ku dikeluarga), bagaimana
dengan kabarmu sendiri? Bisakah kamu menemui paman hari ini jam tujuh malam
digereja dekat taman kota?” ujar paman Sam.
“Syukurlah
paman aku juga baik-baik saja disini, selesai kerja aku langsung menemui
paman”. Jawabku. Dan akhirnya aku tutup pembicaraanku lewat telephone. Sesegera
aku mengerjakan informasi yang tadinya telah aku dapat. Pukul dua belas siang
beritaku sudah bisa di munculkan. Tak terasa waktu mengingatkanku untuk
selesai, tepat pukul setengah tujuh aku keluar dari kantor dan segera aku pergi
ke gereja untuk menemui paman Sam. Sesampainya disana aku melihat mobil tua
ayahku terparkir rapi didepan gereja, aku hanya memandangnya sekilas dan
langsung masuk gereja. Di dalam gereja aku melihat seorang laki-laki tua duduk
di kursi jemaat nomor dua dari depan, ku hampiri dan ternyata benar itu adalah
paman Sam.
Pelukan
terjadi di altar gereja, suasana menjadi sendu seketika. “Londo kecilnya paman sudah
sebesar ini kau.” Ungkap paman Sam sambil memegang pundakku.
“Syukur pamanku aku sekarang telah menjadi
pemuda yang gagah dan bertanggung jawab.” Balasku ke pada paman Sam.
“Dua
minggu lagi adalah perayaan natal dan usiamu akan genap menjadi 23 tahun, aku
datang bermaksud menyampaikan satu amanat dari almarhum ayahmu dulu, bahwa
ketika usiamu sudah menginjak 23 tahun disitulah tanggung jawab seutuhnya mulai
kau pikul, disini paman akan memberimu barang yang selama ini dititipkan ke
pada paman oleh ayahmu dulu.” Ungkap paman Sam.
“Paman
sebelumnya aku akan menceritakan kisah hidupku selama ini, setelah aku
kehilangan keluargaku pada insiden kala itu saat usia sudah menginjak delapan
belas tahun aku memutuskan untuk menjadi mualaf dan sekarang aku telah masuk
islam sama seperti opung buyut.” balasku.
“Apakah itu sudah benar menjadi keputusanmu?
Tak apa jika kau mantap ndo, sesungguhnya semua kepercayaan itu bermaksud sama,
sama-sama bertujuan kebaikan. Apapun yang menjadi keputusanmu pastinya sudah
kau pikirkan dengan matang-matang.” jelas paman Sam ke pada ku.
“Iya
paman, aku telah memantabkan hatiku. Lalu barang apa yang dititipkan ayahku,
apakah itu mobil tua?.”tanyaku tegas.
“Sebelum
pergi ayahmu sempat berpesan bahwa kau akan meneruskan ayahmu menjadi pemilik
usaha milik ayahmu, dan mobil antik milik ayahmu pertama kali itu juga adalah
wasiat untukmu.” Ungkap paman.
“Aku
tidak bisa menerimanya paman, terlalu
pedih ketika aku sekilas melihat mobil tua itu, bagaimana bisa aku menerimanya
sama saja setiap hari aku harus mengingat cerita pahit itu.” Ungkapku sambil
menangis.Paman Sam langsung menenangkanku dan tak lama setelah itu aku keluar
dari gereja bersama paman Sam. Aku langsung pulang begitu dengan paman Sam.
Keesokannya
paman kerumahku dan sekalian membawa mobil itu kerumah, betapa aku langsung
memarahi pamanku dan seketika paman
menenangkan aku. Bahwa sesungguhnya bukan mobil itu yang salah, bukan mobil itu
yang merenggut keluargaku takdirlah yang sudah terencana. Tak bisa menyalahkan
siapapun bahkan menyalahkan Tuhan atau barang mati tak tau apa-apa seperti
mobil tua itu. Aku belajar ikhlas
menerima mobil tua ayahku, tetapi aku tak berniat untuk mengendarainnya
melainkan akan aku simpan di sebuah museum keluarga milik opung buyutku,
kebetulan opung buyutku adalah seorang kolektor terkenal dulunya.