Kamis, 06 Oktober 2016

Cerpen Mobil




Cerpen Otodidak
(Ini adalah cerpen pertama saya yang saya ciptakan secara otodidak, judul dari cerpen ini pun sebenarnya bukan saya yang memilih melainkan tidak sengaja,tugas dari sebuah forum sastra di kampus yang saya ikuti. Selamat membaca☺️)



Mobil

            Entah apa yang mengganjal dipikiranku, alunan loceng gereja dan guyuran derai hujan kala itu membuatku lesu. “Tik tok tik tok tik tok” langkahku menuntunku pada sebuah bayangan samar-samar diujung  jalan. Langkahku terhenti ketika kulihat kembali mobil tua pemberian ayahku dulu, “Oh bukankah sudah ku lowakkan mobil tua dan kenangannya? Kenapa ada disini lagi?” gumamku tak karuan.
            Bau mistis kian melekat pada setiap sudut mobil tua ayahku ini, tak kuat hati untuk ku amati kenangan-kenangan pada sudut-sudutnya. Mobil pertama milik ayahku pada zaman belanda ini telah banyak meninggalkan kenangan pahit.
            Lima belas tahun lalu terakhir aku melihat rona bahagia dilengkung bibir keluargaku saat semua masih utuh, tak kuingat jelas karena aku baru berusia tujuh tahun kala itu. Mobil tua ini selalu membawa kami menyusuri seisi kota. Tak kuat hati rasanya mengenang cerita usang pahit di masa lalu. Insiden mengerikan yang memaksaku berpisah dengan ayah dan ibuku telah menjadi segores luka yang melekat kuat di batinku.
            Matahari kembali menampakkan sinarnya di ufuk timur, jam menunjukkan pukul 05.00 WIB saatnya aku pergi ke kantor jurnalistik tempatku bekerja. Sebagai seorang karyawan jurnalistik yang masih magang hendaknya aku berangkat pagi-pagi buta untuk mencari ribuan informasi seputar keganasan dunia. Ketika aku keluar rumah dan hendak ke kantor mobil itu masih terparkir di tepi jalan depan rumahku, aku tak perduli dengan adanya mobil tua itu. Hari itu aku ditugaskan mendatangi sebuah pabrik kayu yang diduga sebagai tempat penyelundupan kayu-kayu ilegal dari Pulau Jawa, bersama polisi aku mengamati sudut demi sudut ruangan dan sembari mencatat informasi penting mengenai pabrik tersebut.
“Mas sepertinya ini merupakan kayu yang diselundupkan dua minggu yang lalu” ungkap salah satu polisi bernama Kompol Hendra Apriadi.
 “Iya pak, kira-kira macam kayu apakah ini dan apa motif pelaku menyelundupkan kayu-kayu ini?” tanyaku kepada polisi tersebut.
“Kayu ini jenis kayu jati tua yang kira-kira usianya ada sekitar ratusan tahun, motif si pelaku tak lain adalah untuk menjualnya keluar negeri melalui jalur laut. Barang ini diselundupkan disini dan diangkut menggunakan truk besar tertutup rapat oleh kain untuk mengelabuhi petugas pengecekan dipelabuahan.” Ungkap pak Hendra.
Setiap informasi yang di sampaikan pak Hendra aku catat dan akan aku jadikan sebagai berita update di siaran televisi kantorku. Sekitar kurang lebih 3 jam aku selesai mengikuti investigasi di pabrik kayu selundupan bersama polisi segera aku bergegas ke kantor dan mengedit informasi yang ku dapat. Laptopku tiba-tiba mati dan aku segera mencari charger untuk mengisikan batrainya. Sembari menunggu laptop aku menuju dapur kantor untuk mengambil minuman, di kantorku memang semua karyawan di ijinkan membuat minuman sendiri. Handphone ku berdering segera aku cek siapa yang menghubungiku, saat aku mendapatkan handphone ku  dering itu sudah berhenti dan aku lihat nomor baru dilayar, segera aku menelphone balik ke nomor tersebut. “Tuuuttttt tuuuttt” terputus. Aku coba sampai enam kali dan selalu terputus, lalu untuk ketuju kalianya aku mendengar suara lelaki, suara yang pernah aku dengar beberapa tahun lalu. “Paman Sam?” tanyaku. “Bagas... ini nomormu nak?” tanyanya.
“Paman Sam bagaimana keadaan paman selama beberapa tahun belakangan ini?, lebih dari sepuluh tahun aku tak mendengar kabar darimu.”tanyaku pada paman Sam.
“Aku baik-baik saja ndo (ndo atau londo adalah panggilan ku dikeluarga), bagaimana dengan kabarmu sendiri? Bisakah kamu menemui paman hari ini jam tujuh malam digereja dekat taman kota?” ujar paman Sam.
“Syukurlah paman aku juga baik-baik saja disini, selesai kerja aku langsung menemui paman”. Jawabku. Dan akhirnya aku tutup pembicaraanku lewat telephone. Sesegera aku mengerjakan informasi yang tadinya telah aku dapat. Pukul dua belas siang beritaku sudah bisa di munculkan. Tak terasa waktu mengingatkanku untuk selesai, tepat pukul setengah tujuh aku keluar dari kantor dan segera aku pergi ke gereja untuk menemui paman Sam. Sesampainya disana aku melihat mobil tua ayahku terparkir rapi didepan gereja, aku hanya memandangnya sekilas dan langsung masuk gereja. Di dalam gereja aku melihat seorang laki-laki tua duduk di kursi jemaat nomor dua dari depan, ku hampiri dan ternyata benar itu adalah paman Sam.
Pelukan terjadi di altar gereja, suasana menjadi sendu seketika. “Londo kecilnya paman sudah sebesar ini kau.” Ungkap paman Sam sambil memegang pundakku.
 “Syukur pamanku aku sekarang telah menjadi pemuda yang gagah dan bertanggung jawab.” Balasku ke pada paman Sam.
“Dua minggu lagi adalah perayaan natal dan usiamu akan genap menjadi 23 tahun, aku datang bermaksud menyampaikan satu amanat dari almarhum ayahmu dulu, bahwa ketika usiamu sudah menginjak 23 tahun disitulah tanggung jawab seutuhnya mulai kau pikul, disini paman akan memberimu barang yang selama ini dititipkan ke pada paman oleh ayahmu dulu.” Ungkap paman Sam.
“Paman sebelumnya aku akan menceritakan kisah hidupku selama ini, setelah aku kehilangan keluargaku pada insiden kala itu saat usia sudah menginjak delapan belas tahun aku memutuskan untuk menjadi mualaf dan sekarang aku telah masuk islam sama seperti opung buyut.” balasku.
 “Apakah itu sudah benar menjadi keputusanmu? Tak apa jika kau mantap ndo, sesungguhnya semua kepercayaan itu bermaksud sama, sama-sama bertujuan kebaikan. Apapun yang menjadi keputusanmu pastinya sudah kau pikirkan dengan matang-matang.” jelas paman Sam ke pada ku.
“Iya paman, aku telah memantabkan hatiku. Lalu barang apa yang dititipkan ayahku, apakah itu mobil tua?.”tanyaku tegas.
“Sebelum pergi ayahmu sempat berpesan bahwa kau akan meneruskan ayahmu menjadi pemilik usaha milik ayahmu, dan mobil antik milik ayahmu pertama kali itu juga adalah wasiat untukmu.” Ungkap paman.
“Aku  tidak bisa menerimanya paman, terlalu pedih ketika aku sekilas melihat mobil tua itu, bagaimana bisa aku menerimanya sama saja setiap hari aku harus mengingat cerita pahit itu.” Ungkapku sambil menangis.Paman Sam langsung menenangkanku dan tak lama setelah itu aku keluar dari gereja bersama paman Sam. Aku langsung pulang begitu dengan paman Sam.
Keesokannya paman kerumahku dan sekalian membawa mobil itu kerumah, betapa aku langsung memarahi pamanku  dan seketika paman menenangkan aku. Bahwa sesungguhnya bukan mobil itu yang salah, bukan mobil itu yang merenggut keluargaku takdirlah yang sudah terencana. Tak bisa menyalahkan siapapun bahkan menyalahkan Tuhan atau barang mati tak tau apa-apa seperti mobil tua itu.  Aku belajar ikhlas menerima mobil tua ayahku, tetapi aku tak berniat untuk mengendarainnya melainkan akan aku simpan di sebuah museum keluarga milik opung buyutku, kebetulan opung buyutku adalah seorang kolektor terkenal dulunya.